Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kumpulan Cerpen

Kan Kukenang

Pagi ini, langit masih terlihat mendung. Kabut putih terlihat senang menutupi pepohonan di depan rumahku. Tak ada sedikitpun sinar mentari  yang mampu menembus tebalnya kabut pagi ini. Hawa pagi terasa begitu membekukan . Ku pandangi  sebuah kalung yang melingkari leherku. Kalung yang begitu indah, dengan liontin berbentuk bulan. Di sekelilingnya, tertata intan-intan yang berkerlap-kerlip. Di dalamnya terdapat permata berwarna biru pekat. Di baliknya, terukir kata “ For my eternal love,  Nadiya “ . Tanpa sadar, air mataku mulai mengalir. Teringat akan masa lalu yang indah namun berakhir dengan kesedihan
____________________________*****************________________________________
  Kicau burung terdengar begitu merdu pagi ini. Cepat-cepat aku menghabiskan sarapanku dan bergegas berangkat ke sekolah. Di tengah perjalanan, aku merasa ada yang memanggil namaku.
“ Nadiya…..hei Aksanu Nadiya”
“ Oh,, kamu Nin.. Maaf ya tadi aku gak denger kamu manggil aku”
“ Iya gak papa.. gimana PR Fisika mu?”
“Sudah selesai. Kamu?”
“ Belum. Nanti ajari aku ya!”
“Sip….” Jawabku.

  Karena terlalu asyik bicara dengan Nindya, aku tidak sadar bahwa aku menabrak seseorang. Begitu tahu siapa yang aku tabrak, jantungku berdetak kencang. Seorang lelaki  berpawakan tinggi dan memakai kacamata. Di wajahnya, terpancar rasa lelah. Rambutnya terlihat masih basah.
“Aksanu…..” ujar lelaki itu.
“ Ah, maaf Fik. Tadi aku tidak sengaja menabrakmu”
“ Gak pa pa kok. Duluan ya”

   Lelaki tadi adalah Ananda Fikri. Dia adalah murid cowok paling pintar di sekolah. Aku benar-benar kesal karena tidak bisa mengalahkannya dan merebut peringkat 1 di sekolah. Tapi, itu dulu. Sekarang, setiap aku bertemu dengannya, jantungku berdebar-debar. Tanganku selalu dingin. Perasaan yang dulunya jengkel ,menjadi kagum dan pada akhirnya berubah menjadi cinta.
“Aksanu..” ujar Nindya menyadarkan lamunanku.
“ Ah, iya. Ayo kita jalan lagi” Sahutku cepat agar Nindya tidak menyadari perasaanku.

  Sesampainya di kelas, seperti biasa pelajaran dimulai saat bel masuk berbunyi. Tak terasa, sekarang waktunya istirahat. Aku langsung berlari menuju sebuah taman kecil di sekolahku.  Aku duduk di sebuah bangku kecil di bawah sebuah pohon beringin. Ku coba tuk melepas segala beban di hatiku. Hampir tak ada waktu untukku untuk menikmati istirahat seperti ini, Karena aku disibukkan dengan tugas dan try out yang harus kujalani. Saat aku mulai menikmati suasana ini, kulihat seseorang yang sedang berjalan menuju arahku. Ternyata dia adalah Fikri. Aku benar-benar kaget, hingga akhirnya menjadi salah tingkah.
“ Hai Nadiya.” Ujarnya dengan lembut.
“ Oh, hai.”
“Boleh aku duduk di sampingmu?” Tanya fikri
“Oh, boleh. Silahkan.”

  Kulihat ia duduk dan mulai membaca buku. Aku berusaha untuk mengalihkan pandanganku darinya, tetapi tidak bisa. Tiba-tiba, Fikri bertanya.
“ Nad, kalau seumpama hidupmu tidak panjang lagi, apa yang akan kau lakukan?”
    Aku begitu kaget dengan pertanyaannnya. Tidak biasanya dia menanyakan hal seperti ini. Aku tahu bahwa dia adalah orang yang optimis.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kita itu harus optimis. Kenapa kau bicara seakan-akan umurmu tidak akan lama lagi?”
  Tak kusangka, kata-kata itu keluar begitu saja. Entah kenapa, sepertinya aku bicara seakan aku marah dengan pernyataannya itu. Bagaimana ini? Bagaiman kalau dia membenciku.
“Maaf kalau pernyataanku tadi membuatmu marah. Kau benar Nad, kita itu harus hidup optimis.” Kulihat, wajah Fikri bagai di selimuti mendung. Wajahnya terlihat begitu sedih.
“Tidak, aku yang harus minta maaf. Bicaraku tadi memang sedikit keterlaluan. Bukan hak ku untuk marah padamu.”
“Tidak apa-apa. Oh ya Nad, kalau nanti orang yang kau kau cintai pergi untuk selama-lamanya, bagaimanakah perasaanmu?”

Aku bingung harus menjawab apa. Tapi, akhirnya aku menemukan jawabannya.
“ Aku pasti sedih, sangat sedih. Mungkin bagiku langit seolah runtuh. Tapi, aku tidak boleh terus meratapi kepergiannya. Itu semua adalah takdir Allah. Aku akan berusaha untuk kembali menjalani hidupku, karena aku yakin dia tak ingin melihatku terus bersedih. Akan kusimpan cintaku padanya di sudut hatiku yang paling dalam agar kenangan bersamanya tidak hilang.”
   Aku begitu puas dengan jawabanku. Ku lihat, Fikri tersenyum dan mulai tertawa. Aku senang melihatnya gembira. Tiba-tiba, Fikri mulai mendekat. Tangannya mulai mendekati wajahku.
“Ada daun di atas jilbabmu.” Ujar Fikri. Ia mengambil daun yang ada di atas jilbabku. Sesaat, wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Tanpa kusadari, mata kami bertemu. Kulihat matanya menatap lurus padaku. Jantungku berdebar kencang seakan mau pecah. Tanganku mulai terasa dingin. Wajahku mulai memerah. Tangannya menyentuh jemariku. Sekarang ia menggenggam tanganku dengan erat.
“Nad. Sebenarnya aku,… aku,……”
   Tiba-tiba bel istirahat berbunyi. Fikri langsung melepas tanganku. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya ingin dia katakan kepadaku.
“Ayo, kita kembali ke kelas.”
    Aku hanya bisa terdiam. Di perjalanan, Fikri tidak mengatakan apapun padaku. Apa yang sebenarnya ingin dia katakana kepadaku?. Pertanyaan itu selalu mengganjal di hatiku. Aku ingin menanyakannya langsung pada Fikri. Tapi, aku tidak punya keberanian untuk menanyakannya. Aku memang seorang pecundang.
   Keesokan harinya, aku tidak bertemu Fikri. Aku benar-benar merasa sedih. Nindya yang menyadari kesedihanku dan perasaanku terhadap Fikri memutuskan untuk membantuku. Bersama-sama kami pergi ke kelas Fikri. Kami bertanya kepada teman Fikri. Ternyata dia tidak masuk karena sakit dan sekarang ia dirawat di RS Cipta Pelita. Sepulang sekolah, aku dan Nindya pergi ke RS Cipta Pelita. Tentu saja kami sudah mengabari orang tua kami. Sesampainya disana, aku bertanya pada suster dimana kamar Fikri di rawat. Suster tadi menjawab bahwa fikri berada di kamar Kamboja 13.
   Aku segera berlari menuju kamar fikri. Di tengah perjalanan, ku lihat orang tua fikri sedang berbicara dengan seorang dokter. Ibunya sedang menangis. Aku pun menguping pembicaraan mereka.
“Tumor sudah menyebar menuju otaknya. Keadaan Fikri sudah kritis. Kita harus segera mengangkat tumornya segera.”
   Apa?.Tumor. Fikri terserang tumor?. Tidak, tidak mungkin. Kakiku mulai terasa lemas. Tenagaku seolah tersedot habis. Aku tak mampu berdiri. Gaya gravitasi terasa begitu kuat menjerat tubuhku. Nafasku sesak. Air mataku pecah. Nindya mencoba menghiburku, tapi itu semua sia-sia. Aku mencoba menghentikan tangisanku. Akhirnya aku bisa berdiri, walaupun harus bersandar pada tembok. Aku mulai berjalan lagi menuju kamar Fikri. Awalnya, orang tua Fikri tidak memperbolehkan kami untuk masuk, tetapi aku mencoba meyakinkan mereka. Akhirnya mereka pun mengizinkannya.
   Aku melihat Fikri tidur di atas kasur. Terlihat sangat pulas. Ia lalu terbangun, seakan menyadari kedatanganku.
“Kau datang Nad.” Ujarnya dengan wajah murung.
“Sebenarnya kau sakit apa Fik?” tanyaku, berharap ia mau jujur kepadaku.

Dia terlihat bingung. Beberapa saat kemudia, bibirnya yang manis mulai bergerak.
“Kau sudah tahu rupanya. Aku terserang tumor otak. Awalnya, aku tidak menyadarinya. Setelah sekian lama, aku baru merasakan sakitnya. Ternyata, tumor sudah mulai menjalar ke otakku.”
   Senyum pahit terlihat di wajahnya. Tanpa kusadari, aku mulai menangis.  Ku coba tuk menahannya, namun air mataku mengalir semakin deras. Tiba-tiba, kedua tangan Fikri memeluk pipiku. Matanya menerawang jauh, seakan-akan sedih melihatku menangis. Jemari tangannya mulai menghapus air mataku. Aku bingung, haruskah aku senang atau sedih dengan perlakuannya ini. Matanya menatap lurus ke arahku lagi, persis seperti tatapannya di taman waktu itu.
“ Nadiya, jangan bersedih. Aku tidak ingin melihatmu bersedih, karena aku mencintaimu.”
  Aku tidak percaya akan apa yang ku dengar. Fikri…, mencintaiku. Lelaki yang kucintai dari lubuk hatiku yang paling dalam mengatakan kalau dia mencintaiku.  Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku. Dengan lembut aku berkata “ Aku juga mencintaimu, amat sangat mencintaimu.”
    3 hari kemudian, Fikri diperbolehkan pulang. Dia meminta waktu untuk menyiapkan mentalnya menjelang operasi pengangkatan tumor. Dia kembali masuk sekolah. Tubuhnya terlihat sehat. Tidak ada yang menyadari bahwa dia sedang berjuang melawan rasa sakit yang begitu menyiksa. Setiap hari aku membawakannya bekal buatanku dan memakannya bersama di taman sekolah.
    “ Terima kasih Nadiya, kau selalu menyemangatiku. Kau selalu mendengarkan ceritaku. Bahkan  kau sampai membuatkan aku bekal setiap hari. Aku merasa menjadi lelaki yang paling beruntung sedunia, aku mempunyai pacar yang cantik, baik, sabar dan pandai memasak.” Tampak seulas senyum merekah di wajahnya yang tampan.
      “Tidak, aku bukanlah wanita yang sempurna seperti yang kau gambarkan. Aku bisa menjadi seperti itu karena cintaku padamu. Cinta mampu membuat seseorang melawan segala rasa takutnya. Cinta mampu merubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tetapi, cinta juga dapat membutakan seseorang tidak bisa membedakan antara hal yang benar dan yang salah. Terlepas dari semua itu, cinta adalah anugerah terindah  yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia.”
“Terima kasih. Besok, aku akan menjalani operasi. Do’a kan semoga operasinya berhasil, sehingga kita bisa melewati hari bersama lagi.”
“ Tentu, saja. Aku akan menunggumu.”
Keesokan harinya, hatiku gelisah. Hatiku tidak bisa tenang. Aku takut, bagaimana jika operasinya tidak berhasil? Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Aku harus yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
Sekarang sudah jam 3 sore. Mendung terlihat memenuhi langit hari ini. Aku semakin cemas. Pasti sekarang operasinya sudah selesai. Tidak lama kemudian, orang tua Fikri datang ke rumahku. Aku berharap mereka membawa kabar baik. Tetapi, orang tua Fikri menangis, aku merasakan firasat buruk
“Fikri,,,meninggal. Operasinya gagal. Tumor sudah terlanjur menyebar ke otaknya. Dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi.” Kata ibu Fikri. Ia tak dapat menahan tangisnya.
“Tidak, tidak mungkin….Tidak mungkin.” Air mataku mulai mengalir. Langit seolah runtuh.
“Nadiya, ini surat yang ditulis Fikri sebelum dia operasi. Dia menyuruh tante untuk memberikan surat dan kotak ini padamu.”

Ibu Fikri memberikan sepucuk surat dan sebuah kotak berwarna biru tu kepadaku. Kubuka surat itu.
Untuk Nadiya

Entah kenapa, aku merasa bahwa aku tidak akan bisa bersamamu lagi
Aku merasa bahwa hidupku tidak lama lagi
Terima kasih atas segala cinta yang kau berikan untukku
Apakah kau tahu? Bagiku kau bagai bulan yang menerangi langit malam
Kau memberiku cahaya harapan disaat aku terpuruk
Kau selalu menghiburku di saat ku sedih
Dan yang terpenting, kau telah memberiku arti cinta yang sebenarnya
Tetapi, kau adalah bulan
Bulan yang tak bisa kuraih dan kumiliki
Bulan yang hanya bisa ku pandangi dari sudut langit
Kumohon, jangan bersedih dengan kepergianku
Walau ragaku tak lagi bersamamu, tetapi cintaku akan selalu mengisi relung jiwamu

                                                             Dari orang yang mencintaimu

                                                                                                                          Fikri

Ku buka kotak biru itu. Di dalamnya, ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulan. Kalung itu begitu indah. Air mataku mengalir lebih deras lagi. Fikri, Fikri……!! Ku coba menyerukan namanya, berharap Allah memberikan kami kesempatan untuk bersama. Tapi, itu semua sia-sia. Fikri tidak akan kembali padaku lagi. Hujan pun turun, seakan-akan ikut merasakan kesedihanku
________________________*********************_________________________________

Kuhapus air mataku. Kini, kulihat secercah sinar matahari muali menembus mengalahkan tebalnya kabut tadi. Aku keluar dari kamarku. Aku ingin pergi ke suatu tempat. Aku mulai berjalan menyusuri jalanan di desaku. Setelah agak lama berjalan, akhirnya aku sampai di tempat yang ingin kudatangi. Aku berdiri di depan sebuah makam. Di nisannya tertulis nama Ananda Fikri.
“ Fik, hasil UNAS sudah di umumkan. Aku lulus dengan hasil yang memuaskan. Aku ingin kuliah dan mengambil jurusan kedokteran. Om dan tante juga mendukungku. Walau biayanya mahal, aku akan mencari beasiswa sebanyak mungkin. Kau bilang kau ingin menjadi dokter, kan?. Sekarang biar aku yang mewujudkan impianmu itu. Aku sudah bisa menjalani hidupku lagi, walau terkadang aku menangis saat mengingat cinta kita. Kenangan bersamamu tidak akan pernah kulupakan. Akan ku kenang seumur hidupku”

TAMAT

catatan : 1% fakta, 99% fiksi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar